Senin, 19 Maret 2012

SOPAN SANTUN MENGHADIRI MAJLIS





يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 


Artinya:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujaadilah: 11).


Dari ayat tersebut, kita sebagai muslim haruslah mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh para pendakwah. Tak lupa dengan lapangnya hati, hati gembira dalam menghadiri majelis maka Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada orang tersebut di dunia dan di akhirat.


Sopan santun dalam menghadiri majelis adalah:
1. Niat.
2. Ikhlas dan gembira.
3. Mendengarkan apa yang disampaikan dalam majelis.
4. Tidak boleh bersenda gurau.

28 KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT NABI


  1. Melaksanakan perintah Allah SWT.
  2. Diangkat sepurluh derajat atas kedudukannya di sisi Allah SWT.
  3. Dituliskan bagi pembaca shalawat sepuluh kebaikan dan dihapuskan sepuluh kejelekan.
  4. Memperoleh limpahan rahmat dan kebajikan dari Allah SWT.
  5. Memperoleh kebajikan, mengangkat derajat, menghapus kejahatan, kesalahan dan dosa.
  6. Memperoleh pengakuan kesempurnaan iman bila membacanya 100 kali.
  7. Menjauhkan kerugian, penyesalam dan digolongkan ke dalam golongan orang-orang shaleh.
  8. Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  9. Memperoleh pahala seperti memerdekakan hamba sahaya.
  10. Memperoleh syafa'at dari Nabi Muhammad SAW.
  11. Memperoleh penyertaan dari malaikat rahmat.
  12. Memperoleh hubungan yang rapat dengan Nabi Muhammad SAW. Sebab jika seseprang bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, maka shalawat dan salamnya disampaikan kepada Beliau.
  13. Membuka kesempatan berkomunikasi dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga.
  14. Menghilangkan kesusahan, kegundaham dan melapangkan rezeki.
  15. Melapangkan dada dan hati yang sempit bila seseorang membacanya 100 kali.
  16. Menghapuskan dosa bila seseorang membacanya 3 kali setiap hari.
  17. Menggantikan sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu bersedekah.
  18. Melipatgandakan pahala yang diperoleh terutama bila seseorang banyak membaca shalawat di hari Jumat.
  19. Mendekatkan kedudukan kepada Rasulullah SAW di Hari Kiamat.
  20. Menjadikan sebab doa kita diterima dan dikabulkan Allah SWT.
  21. Melepaskan diri dari kebingungan di Hari Kiamat.
  22. Memenuhi stu hak Rasulullah SAW atau memenuhi suatu ibadah yang diwajibkan Nabi SAW kepada umatnya.
  23. Dipandang sebagai seseorang yang mencintai Rasulullah SAW.
  24. Dikabulkan segala hajat atau kebutuhannya.
  25. Membuat orang yang membacanya menjadi ingat atas segala hal yang dilupakannya.
  26. Menghilangkan perasaan pelit.
  27. Menyelamatkan pembacanya dari kejahatan orang yang mendoakan keburukan baginya.
  28. mengundang keberkahan.
HUWALLAHU A'LAM BIS SHOWAB

Selasa, 13 Maret 2012

sejarah simtudduror

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.
Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.
Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

Jumat, 09 Maret 2012

KEUTAMAAN SHOLAWAT NABI

Perintah Allah dengan FirmanNya : Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat pada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bacalah shalawat dan salam pada nabi dengan sesungguhnya.
Hadits nabi : Rosulullah bersabda : Barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat ( memberikan rahmat ) untuknya 10 kali. Siapa yang membaca shalawat untukku 10 kali maka Allah bershalawat ( memberikan rahmat ) 100 kali. Siapa yang membaca shalawat untukku 100 kali maka Allah akan menulis di antara kedua matanya kebebasan dari Munafik ( orang kafir berpura-pura Islam padahal hatinya tidak ), akan dibebaskan dari api neraka, dan ditempatkan nanti di hari kiamat dengan kelompok orang yang mati syahid.
Nabi bersabda : bacalah shalawat untuk karena bacaan shalawatmu akan menjadi penebus dosa-dosamu dan akan menjadi kesucian untukmu. Siapa yang membaca shalawat untukku satu kali maka Allah akan memberikan rahmat dan kasih sayangNya 10 kali lipat.
Masih banyak hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Marilah kita bershalawat untuk Nabi. Semoga kita akan mendapatkan syafaat-syafaatnya baik di dunia dan akherat.

Selasa, 06 Maret 2012

KEUTAMAAN MENCARI ILMU


Sesungguhnya keutamaan menuntut ilmu sangat banyak, di sini cukuplah kami sebutkan beberapa faedah dari hadits di atas yang telah kami sampaikan:
  1. Allah memudahkan jalan ke sorga bagi orang yang menuntut ilmu.
  2. Malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi.
  3. Seorang ‘alim dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air.
  4. Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang.
  5. Para ulama itu pewaris para Nabi.

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا 

دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


artinya:

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]

SEJARAH MAJLIS MAULID WATTA'LIM RIYADLUL JANNAH

Awal mulanya, untuk memperoleh 40 lokasi sebagai tempat kegiatan safari 40 malam tersebut, ia menyarankan gagasan dakwahnya itu kepada para pengurus masjid.

Sekitar dua tahun sebelum wafat, Kiai Ahmad Syadzili (Kisah Ulama alKisah 07/2009), Pendem, Batu, Malang, memanggil salah seorang putranya, Gus Rohim, untuk menemuinya di dalam kamar. Saat itu, di kediaman sang kiai sedang berlangsung persiapan pelaksanaan acara Maulid Nabi SAW yang akan dilangsungkan pada hari itu. Sesampainya ia di dalam kamar, ternyata Kiai Syadzili sedang menangis haru sedemikian hebat. Sementara itu, suasana kamar terasa sangat berbeda. Semerbak wewangian memenuhi seluruh isi ruangan.

Gus Rohim mendekati sang ayah. Dengan suara lirih, ayahnya mengatakan, “Rasulullah SAW baru saja datang ke sini.” Subhanallah.

Kecintaan Kiai Syadzili kepada Rasulullah SAW memang begitu mendalam. Bagi mereka yang meyakini bahwa Rasulullah SAW dapat saja menemui orang-orang tertentu secara yaqzhatan (dalam keadaan terjaga), apa yang dialami Kiai Syadzili adalah bukti bahwa Rasulullah SAW pun mencintainya.

Tahun 2000, Kiai Syadzili wafat. Gus Rohim, putranya, kini melanjutkan dakwah Kiai Syadzili. Meneruskan apa yang ditekankan dalam dakwah sang ayah, dakwah Gus Rohim saat ini memang banyak menekankan ihwal menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW di hati kaum muslimin. Memang benar kata sebuah pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Mimpi Ziarah ke Makam Nabi

Di kota Malang, atau tepatnya di seantero Malang Raya, yakni Kabupaten Malang dan Kota Madya Malang, nama Gus Rohim cukup dikenal sebagai tokoh ulama kharismatis dengan gebrakan dakwahnya Safari Maulid 40 Malam.

Acara tersebut diselenggarakan secara berkeliling selama 40 malam berturut-turut, dari kota ke kota, dari desa ke desa, dari masjid ke masjid, dan dari mushalla ke mushalla, ketika datangnya bulan Rabi’ul Awwal, atau bulan Maulid. Selain jama’ah setianya yang selalu mendampingi Gus Rohim di setiap tempat penyelenggaraan acara, jama’ah dari berbagai daerah tempat disinggahinya acara tersebut juga selalu menyambut dengan penuh antusias.

Sosok Gus Rohim dikenal hangat bila bertemu siapa pun. Tutur katanya tenang tapi penuh wibawa. Lewat pribadi yang terkesan low profile ini, ribuan jama’ah dengan setia mengikuti prosesi pembacaan Maulid Simthud Durar di setiap malam penyelenggaran acara safari Maulid tersebut. Malam-malam di kota Malang pun terasa dipenuhi rasa suka cita, menyambut momentum istimewa, yaitu memperihati hari kelahiran Rasulullah SAW.

Awalnya, ia mendapat isyarat lewat mimpi. Saat itu, ia sendiri sudah memiliki majelis Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang telah berjalan kurang lebih selama satu tahun.

Gus Rohim bermimpi pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW bersama para jama'ahnya. Dalam mimpinya, ia memerintahkan para jama’ah untuk mendahuluinya masuk ke ruang makam Rasulullah SAW. Setelah seluruh jama’ah sudah masuk dan telah keluar kembali dari ruang makam Rasulullah SAW, barulah ia  sendirian masuk ke makam mulia tersebut.

Dalam mimpinya itu, di hadapan makam Rasulullah SAW, Gus Rohim bermunajat hingga meneteskan air mata. Saat itu, terutama ia memohon agar mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW.

Tiba-tiba dari dalam makam Rasulullah SAW, Rasulullah SAW mengulurkan tangan beliau yang mulia kepada Gus Rohim. Segera saja Gus Rohim mencium tangan mulia Rasulullah SAW tersebut dan terus dipegangnya erat-erat hingga ia terjaga dari tidurnya. Setelah terjaga, wangi harum tangan mulia Rasulullah SAW masih melekat di tangan Gus Rohim.

Ijazah Habib Anis

Selang beberapa bulan setelah mendapat isyarat mimpi tersebut, ia mengunjungi Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi di kota Solo. Habib Anis adalah cucu Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun kitab Maulid Simthud Durar atau terkadang disebut Maulid Al-Habsyi. Dalam kesempatan itu, Habib Anis mengijazahkan pembacaan kitab Maulid tersebut kepada Gus Rohim, sekaligus memintanya agar menyebarluaskannya di wilayah sekitar tempat tinggalnya di Malang.

Mendapatkan amanah muliau tersebut, Gus Rohim mulai membuka majelis Maulid secara istiqamah sebagai jalan dakwah bagi dirinya di tengah-tengah umat. Dalam perjalanan dakwah safari Maulid yang ia adakan, ia pada awalnya mensyiarkan Maulid Simthud Durar lewat lembaga pendidikan yang ia pimpin, yaitu Pondok Pesantren Riyadhul Jannah. Di pesantren asuhannya itu, ia menggelar majelis Maulid dengan para santri setiap malam menjelang datangnya waktu subuh.

Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai membuka majelis Maulid untuk umum sebulan sekali, yaitu setiap Jum’at Legi malam Sabtu Pahing.

Pada awal dibukanya majelis bulanan itu, majelis tersebut hanya dihadiri beberapa orang. Namun majelis itu mendapat dukungan banyak pihak, terutama dari kalangan habaib, seperti Habib Muhammad Bin Agil dan Ustadz Anis Bin Shahab. Setelah beberapa tahun berjalan, para jama’ah yang mengikuti majelis tersebut pun berkeinginan untuk mengadakan majelis pembacaan Maulid di tempat mereka masing-masing.

Maka kemudian di sejumlah tempat mulailah dibuka majelis Maulid yang ia bina sebagai pengembangan dari majelis Maulid di kediamannya, seperti pada beberapa mushalla kecil di daerah Purwodadi, Lawang, dan Singosari. Saat itu, hari pelaksanaannya pun masih belum teratur.

Setelah berjalan beberapa bulan, permintaan pembacaan Maulid di tempat-tempat lainnya semakin meningkat. Akhirnya Gus Rohim berinisiatif untuk menyeragamkan hari pelaksanaannya, yaitu hari Sabtu malam Ahad. Bersama Habib Agil bin Ali Bin Agil dan Habib Anis Bin Shahab, ia mulai mengadakan safari Maulid berkeliling majelis dan daerah, hingga sampai saat ini.

Terbesar di Malang

Bulan Rabi’ul Awwal 1430 H/2009 M, Gus Rohim menggagas pelaksanaan acara Maulid secara berkeliling. Maka ditetapkanlah acara safari Maulid tersebut diadakan selama 40 malam berturut-turut. Sebenarnya, kebiasaan ini sudah berlangsung lama sebagai kebiasaannya sendiri. Setiap masuk bulan Rabi’ul Awwal, ia menggelar pembacaan maulid Simthud Durar selama 40 malam berturut-turut bersama para santrinya. Kebiasaan itulah yang kemudian ia ingin tularkan kepada kaum muslimin pecinta Rasulullah SAW di kota Malang secara umum.

Pada awalnya, untuk mendapat 40 tempat sebagai lokasi acara safari 40 malam tersebut, ia menawarkan gagasan dakwahnya itu kepada para pengurus masjid di sekitar kawasan Malang Raya. Tidak semuanya dapat berjalan mulus dan mudah. Karena masih banyak orang yang belum mengenal Maulid Simthud Durar.

Setelah safari Maulid 40 malam yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1430 H/2009 M tersebut berjalan sukses, jama’ah setianya semakin bertambah banyak, hingga mencapai ribuan. Itu mengakibatkan, tidak seperti saat hendak mengadakan Safari Maulid 40 Malam yang pertama, untuk Safari Maulid yang kedua, yaitu pada tahun ini, beberapa bulan sebelum dimulainya pun, jadwal 40 malam telah terisi penuh. Banyak tempat yang menyodorkan diri untuk kegiatan baik tersebut. Sampai-sampai banyak tempat yang tidak mendapatkan bagian untuk disinggahi acara itu.

Setiap malam pelaksanaan acara Safari Maulid tersebut, selain membaca Maulid Simthud Durar, jama’ah juga mendengarkan taushiyah dari para ulama yang berbeda-beda di setiap malamnya. Ribuan jama’ah pun mendapat siraman ruhani yang amat bermanfaat.

Semangat para jama’ah begitu kentara. Meski diguyur hujan dan menahan dinginnya angin malam, mereka, yang rata-rata menggunakan kendaraan sepeda motor, baik sendiri maupun dengan keluarga, dengan setia menghampiri setiap tempat yang kedapatan disinggahi acara Safari Maulid. Lokasi acaranya sendiri kini telah meluas setidaknya sampai kota Pasuruan.