Sabtu, 05 Mei 2012
Minggu, 22 April 2012
Jadwal Haul Habaib Se-Jawa
NO
|
NAMA | BULAN | TEMPAT |
1. | Habib Hadi Bin Abdullah Al-Haddar | Minggu, 1 Muharram | Lateng Banyuwangi |
2. | Fakhrul Wujud Syekh Abubakar Bin Syalim | Muharram | Cidodol Jakarta Selatan |
3. | Habib Abubakar Bin Husein Assegaf | 27 Muharram | Bangil Pasuruan |
4. | Habib Husein Bin Hadi Al-Hamid | 12 Shafar | Brani Probolinggo |
5. | Habib Abdullah Bin Ali Al-Haddad | 27 Shafar | Bangil Pasuruan |
6. | Habib Hasan Bin Muhammad Al-Hadad | Shafar Minggu Terakhir | Kota, Jakarta Utara |
7. | Do’a Tolak Bala dan Maulid di Pon-Pes Darul Hadist Alfagihiyah | Shafar Rabu Terakhir | Alun-alun Malang |
8. | Habib Abdul Qadir Bib Alwi Assegaf | Rabiul Awal, Minggu Pertama | Tuban |
9. | Maulid di Makam Habib Ahmad Al-Haddad | Rabiul Awal Minggu Pertama Sore | Habib Kuncung Kalibata |
10. | Habib Ali Bin Husein Al-Atthas | Rabiul Awal, Selasa Terakhir | Buluh Condet Jakarta |
11. | Habib Abdullah Bin Muchsin Al-Atthas. (Selasa malem Maulid, Rabu pagi Haul ) | Rabiul Awal Rabu Terakhir | Empang bogor |
12. | Maulid di Habib Abubakar Assegaf | Rabiul Awal Jum’at Pertama | Gresik |
13. | Maulid di Habib Muhammad Al-Aydrus | Rabiul Awal Jum’at Pertama | Ketapang Kecil Surabaya |
14. | Habib Ali Bin Abdulrahman Al-Habsyi (Rabu sore Ziarah, Kamis sore maulid) | Rabiul Awal Rabu Terakhir | Kwitang Jakarta Pusat |
15. | Maulid di Darul Aitam | Rabiul Awal Jumat Pagi | Tanah Abang Jakarta |
16. | Habib Muchsin Bid Muhammad Al-Atthas (Haul & Maulid) | Rabiul Awal Sabtu Pagi | Alhawi Condet Jakarta |
17. | Maulid di Habib Ahmad Al-Atthas | 15 Malam Rabiul Awal | Pekalongan |
18. | Habib Salim Bin Ahmad Bin Zindan | Rabiul Awal Senin Sore | Otista Jakarta Timur |
19. | Maulid di Habib Abdulrahman Assegaf | Rabiul Awal Minggu Pagi | Al Busro Citayam |
20. | Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi (Simthuduror) | 20 Rabiul Tsani | Gurawan Solo |
21. | Habib Muhammad Bin Idrul Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
22. | Habib Muhammad Bib Ahmad Al-Muhdhor | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
23. | Habib Abubakar Bin Syofi Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
24. | Habib Idrus Bin Abubakar Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
25. | Habib Umar Bin Abdulrahman Al-Atthas | 23 Rabiul Tsani | Petamburan Jakarta |
26. | Habib Alwi Bin Salim Al-Aydrus | 23 Rabiul Tsani | Tanjung Malang |
27. | Habib Umar Bin Hud Al-Atthas | 29 Rabiul Tsani | Cipayung Jawa Barat |
28. | Habib Muhammad Bin Husein Al-Aydrus | Jumadil Awal Kamis Terakhir | Ketapang Kecil Surabaya |
29. | Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Aydrus | Jumadil Akhir Minggu Pertama | Benhil Jakarta Pusat |
30. | Habib Husein Bin Muhammad Al-Haddad | Jumadil Akhir Sabtu Ketiga | Ampel Surabaya |
31. | Habib Ja’far Bin Syekhon Assegaf | Jumadil Akhir Minggu Ketiga | Masjid Jami’ Pasuruan |
32. | Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih | Jumadil Akhir Minggu Terakhir | Alun-alun Malang |
33. | Habib Abdullah Bin Abdul Qodir Bilfaqih | Jumadil Akhir Minggu Terakhir | Alun-alun Malang |
34. | Habib Muhammad Bin Thohir Ba’bud | Rajab Minggu Pertama | Ds.Paleng Ploso Kediri |
35. | Khataman Bukhari di Habib Ahmad Al-Atthas | 12 Rajab | Pekalongan |
36. | Khataman Bukhari di Masjid Al-Hawi | 26-27 Rajab | Condet Cililitan Jakarta |
37. | Khataman Bukhari di Habib Abubakar Assegaf | Rajab Jum’at Terakhir | Grasik Surabaya |
38. | Habib Syeh Bin Salim Al-Atthas | 27 Rajab | Tipar Sukabumi |
39. | Habib Muhdor Bin Muhammad Al-Muhdor | 29 Rajab | Bondowoso |
40. | Habib Balawi, Al-Syathiri, Al-Qudsi | 10 Sya’ban | Kp.Bandan Jakarta Utara |
41. | Habib Ahmad Bin Tholib Al-Atthas | 14 Sya’ban | Pekalongan |
42. | Habib Muhammad Bin Thohir Al-Haddad | 15 Sya’ban | Tegal |
43. | Habib Muhammad Bin Abdulrahman Assegaf | 16 Pagi Sya’ban | Indramayu Jawa Barat |
44. | Habib Ali Bin Abdulrahman Al-Habsyi (Ziarah dimakam Habib Ali, Besoknya Haul) | Sya’ban Sabtu Ketiga | Kwitang Jakarta Pusat |
45. | Habib Salim Bin Thoha Al-Haddad | Sya’ban Jum’at Terakhir | Damai Kalibata |
46. | Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad | Sya’ban Minggu terakhir | Rawajati Kalibata |
47. | Habib Syech Bin Ahmad Bafaqih | Syawal Kamis Kedua | Boto Putih Surabaya |
48. | Habib Umar Bin Ja’far Assegaf | 5 Syawal | Cibeduk Tapos Jawa Barat |
49. | Habib Sholeh Bin Muchin Al-Hamid | Syawal Minggu Kedua | Tanggul Jember |
50. | Habib Ahmad Bin Ali Bafaqih | Syawal Sabtu Terakhir | Ds. Tempel Yogyakarta |
51. | Habib Husein Bib Abubakar Al-Aydrus | Syawal Minggu Terakhir | Luarbatang Jakarta Utara |
52. | Majlis Burdah Habib Muhammad Al-Aydrus | Syawal Kamis Kedua | Ketapang Kecil Surabaya |
53. | Habib Alwi Bin Muhammad Assegaf | 10 Dzulhijah | Gresik Kota Surabaya |
54. | Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf | 17 Dzulhijah | Masjid Jami’ Gresik |
55. | Habib Harun Bin Abdullah Baharun | 17 Dzulhijah | Sumur Songo Gresik |
Senin, 16 April 2012
TAWASSUL
Banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin.
Tawassul kepada Rasulullah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 64, “Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang dhalim, disamping do’a mereka tetapi ada juga wasilah (do’anya) Rasulullah SAW.
Soal tawassul seperti itu, disebutkan pula dalam tafsir Ibnu Katsir, “Berkata Al-Imam Al-Hafidz As-Syekh Imaduddin Ibnu Katsir, menyebutkan segolongan ulama’ di antaranya As-Syekh Abu Manshur As-Shibagh dalam kitabnya As-Syaamil dari Al-Ataby; berkata: saya duduk di kuburan Nabi SAW. maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman;
Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka kemudian datang kepadamu dan mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang; dan saya telah datang kepadamu (kekuburan Rssulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilahmu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda, “Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”
Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw., tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 20 ini, dengan munculnya sekte Wahabi Salafi sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw., sebagaimana hadits shahih dibawah ini :
"Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih).
Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.
Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw. berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw. (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu). Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal minimal 40.000 (empat puluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw., sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.
Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka hanyalah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih. Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasululloh saw., sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw. rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : "Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.",Maka jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasululloh saw. bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw. (Istri Abu Thalib).
Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw.) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw.) yang melihat beliau (saw.), maka turunkanlah hujan".
maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasululloh saw. sendiri bertawassul.
Apakah mereka memusyrikkan Rasululloh saw.?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.
Tawassul kepada Rasulullah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 64, “Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang dhalim, disamping do’a mereka tetapi ada juga wasilah (do’anya) Rasulullah SAW.
Soal tawassul seperti itu, disebutkan pula dalam tafsir Ibnu Katsir, “Berkata Al-Imam Al-Hafidz As-Syekh Imaduddin Ibnu Katsir, menyebutkan segolongan ulama’ di antaranya As-Syekh Abu Manshur As-Shibagh dalam kitabnya As-Syaamil dari Al-Ataby; berkata: saya duduk di kuburan Nabi SAW. maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman;
Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka kemudian datang kepadamu dan mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang; dan saya telah datang kepadamu (kekuburan Rssulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilahmu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda, “Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”
Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw., tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 20 ini, dengan munculnya sekte Wahabi Salafi sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw., sebagaimana hadits shahih dibawah ini :
"Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih).
Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.
Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw. berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw. (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu). Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal minimal 40.000 (empat puluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw., sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.
Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka hanyalah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih. Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasululloh saw., sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw. rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : "Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.",Maka jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasululloh saw. bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw. (Istri Abu Thalib).
Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw.) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw.) yang melihat beliau (saw.), maka turunkanlah hujan".
maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasululloh saw. sendiri bertawassul.
Apakah mereka memusyrikkan Rasululloh saw.?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.
Minggu, 15 April 2012
KHOTIB MEMBAWA TONGKAT
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari al Hakam
bin Hazn mengatakan bahwa kami melaksanakan shalat jum’at bersama
Rasulullah saw dan beliau saw bersandar dengan sebuah tongkat atau
busur.”
Imam Shan’ani mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil disunnahkan bagi seorang khotib bersandar dengan sebuah pedang atau yang sejenisnya disaat memberikan khutbahnya. Hikmah dalam hal ini adalah sebagai pengikat hati dan untuk menghindari kedua tangannya dari perbuatan yang tidak bermanfaat. Dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu sebagai sandaranya maka hendaklah dia menjatuhkan kedua tangannya atau meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya atau meletakkannya di sisi mimbar. Dimakruhkan baginya memukulkan pedang keatas mimbar dan jika hal ini tidak ada keterangannya maka ia adalah perbuatan bid’ah. (Subulus Salam juz II hal 125)
Sementara itu Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa apabila Rasulullah saw berdiri menyampaikan khutbahnya maka dia mengambil sebuah tongkat lalu bersandar kepadanya diatas mimbar, demikian disebutkan oleh Abu Daud dari Ibnu Syahab. Dan para khlaifah yang tiga setelahnya juga melakukan perbuatan seperti itu. Terkadang beliau saw bersandar dengan sebuah busur akan tetapi tidak didapat keterangan bahwa beliau saw bersandar dengan sebuah pedang.
Banyak orang-orang yang tidak mengetahui beranggapan bahwa Rasulullah saw menggenggam sebuah pedang diatas mimbar sebagai isyarat bahwa agama ini ditegakkan dengan pedang. Ini adalah sebuah kebodohan yang buruk dilihat dari dua sisi:
1. Terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw bersandar dengan sebuah tongkat atau busur.
2. Bahwa agama ditegakkan dengan wahyu. Adapun pedang adalah untuk menghapuskan para pelaku kesesatan dan kemusyrikan.
Dan kota Nabi saw, tempat Rasulullah saw menyampaikan khutbahnya sesungguhnya dibebaskan dengan Al Qur’an dan tidak dibebaskan dengan pedang. (Zaadul Ma’ad juz I hal 189 – 190)
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa didalam syarh az Zarqoni Alal Mawahibid Diniyah juz VII hal 384 disebutkan bahwa Nabi saw disaat khutbah kadang bersandar dengan sebuah busur atau kadang dengan tongkat. Didalam sunan Abu Daud disebutkan bahwa apabila beliau saw berkhutbah maka dia memegang tongkat untuk bersandar dengannya sementara beliau saw berada diatas mimbar. Didalam sunan Ibnu Majah, sunan Baihaqi dan mustadrak Hakim disebutkan bahwa apabila beliau saw berkhutbah didalam suatu peperangan maka beliau saw berkhutbah sambil bersandar dengan busur dan apabila dia berkhutbah di hari jum’at maka beliau saw berkhutbah sambil bersandar dengan sebuah tongkat. Dalil-dalil diatas menguatkan pendapat Ibnul Qoyyim yang menolak alasan bahwa islam ditegakkan dengan pedang.
Sesungguhnya berpegangannya seorang khotib dengan sebuah pedang, tongkat atau bersandar dengan sesuatu yang lain adalah untuk membantu khotib tersebut agar lebih tampak kegagahannya. Untuk merealisasikan itu diperlukan sesuatu walaupun hanya sebatas berpegangan dengan huruf yang ada di mimbar atau bisa jadi untuk itu seorang khotib tidak perlu bersandar dengan sesuatu apapun.
Dengan demikian permasalahan ini adalah sangat mudah dan ringan daripada harus berselisih pendapat didalam permasalahan ini terlebih lagi apabila tejadi fanatisme buta. Yang terpenting adalah kita harus menghilangkan pemikiran bahwa islam disebarkan dengan pedang walaupun mengangkat senjata adalah sesuatu yang penting didalam da’wah islam sejak hari-hari pertamanya.
HUWALLAHU A'LAM
Imam Shan’ani mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil disunnahkan bagi seorang khotib bersandar dengan sebuah pedang atau yang sejenisnya disaat memberikan khutbahnya. Hikmah dalam hal ini adalah sebagai pengikat hati dan untuk menghindari kedua tangannya dari perbuatan yang tidak bermanfaat. Dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu sebagai sandaranya maka hendaklah dia menjatuhkan kedua tangannya atau meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya atau meletakkannya di sisi mimbar. Dimakruhkan baginya memukulkan pedang keatas mimbar dan jika hal ini tidak ada keterangannya maka ia adalah perbuatan bid’ah. (Subulus Salam juz II hal 125)
Sementara itu Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa apabila Rasulullah saw berdiri menyampaikan khutbahnya maka dia mengambil sebuah tongkat lalu bersandar kepadanya diatas mimbar, demikian disebutkan oleh Abu Daud dari Ibnu Syahab. Dan para khlaifah yang tiga setelahnya juga melakukan perbuatan seperti itu. Terkadang beliau saw bersandar dengan sebuah busur akan tetapi tidak didapat keterangan bahwa beliau saw bersandar dengan sebuah pedang.
Banyak orang-orang yang tidak mengetahui beranggapan bahwa Rasulullah saw menggenggam sebuah pedang diatas mimbar sebagai isyarat bahwa agama ini ditegakkan dengan pedang. Ini adalah sebuah kebodohan yang buruk dilihat dari dua sisi:
1. Terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw bersandar dengan sebuah tongkat atau busur.
2. Bahwa agama ditegakkan dengan wahyu. Adapun pedang adalah untuk menghapuskan para pelaku kesesatan dan kemusyrikan.
Dan kota Nabi saw, tempat Rasulullah saw menyampaikan khutbahnya sesungguhnya dibebaskan dengan Al Qur’an dan tidak dibebaskan dengan pedang. (Zaadul Ma’ad juz I hal 189 – 190)
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa didalam syarh az Zarqoni Alal Mawahibid Diniyah juz VII hal 384 disebutkan bahwa Nabi saw disaat khutbah kadang bersandar dengan sebuah busur atau kadang dengan tongkat. Didalam sunan Abu Daud disebutkan bahwa apabila beliau saw berkhutbah maka dia memegang tongkat untuk bersandar dengannya sementara beliau saw berada diatas mimbar. Didalam sunan Ibnu Majah, sunan Baihaqi dan mustadrak Hakim disebutkan bahwa apabila beliau saw berkhutbah didalam suatu peperangan maka beliau saw berkhutbah sambil bersandar dengan busur dan apabila dia berkhutbah di hari jum’at maka beliau saw berkhutbah sambil bersandar dengan sebuah tongkat. Dalil-dalil diatas menguatkan pendapat Ibnul Qoyyim yang menolak alasan bahwa islam ditegakkan dengan pedang.
Sesungguhnya berpegangannya seorang khotib dengan sebuah pedang, tongkat atau bersandar dengan sesuatu yang lain adalah untuk membantu khotib tersebut agar lebih tampak kegagahannya. Untuk merealisasikan itu diperlukan sesuatu walaupun hanya sebatas berpegangan dengan huruf yang ada di mimbar atau bisa jadi untuk itu seorang khotib tidak perlu bersandar dengan sesuatu apapun.
Dengan demikian permasalahan ini adalah sangat mudah dan ringan daripada harus berselisih pendapat didalam permasalahan ini terlebih lagi apabila tejadi fanatisme buta. Yang terpenting adalah kita harus menghilangkan pemikiran bahwa islam disebarkan dengan pedang walaupun mengangkat senjata adalah sesuatu yang penting didalam da’wah islam sejak hari-hari pertamanya.
HUWALLAHU A'LAM
TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN DUNIA
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu
Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama: Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”.
Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua: Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh.
Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga: al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?”
Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”.
Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.
Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh. Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita.
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima: al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”.
Keenam: Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh: yaitu umur yang barokah. Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.
Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.
Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama: Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”.
Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua: Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh.
Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga: al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?”
Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”.
Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.
Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh. Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita.
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima: al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”.
Keenam: Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh: yaitu umur yang barokah. Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.
Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.
Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
Senin, 19 Maret 2012
SOPAN SANTUN MENGHADIRI MAJLIS
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujaadilah: 11).
Dari ayat tersebut, kita sebagai muslim haruslah mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh para pendakwah. Tak lupa dengan lapangnya hati, hati gembira dalam menghadiri majelis maka Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada orang tersebut di dunia dan di akhirat.
Sopan santun dalam menghadiri majelis adalah:
1. Niat.
2. Ikhlas dan gembira.
3. Mendengarkan apa yang disampaikan dalam majelis.
4. Tidak boleh bersenda gurau.
28 KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT NABI
- Melaksanakan perintah Allah SWT.
- Diangkat sepurluh derajat atas kedudukannya di sisi Allah SWT.
- Dituliskan bagi pembaca shalawat sepuluh kebaikan dan dihapuskan sepuluh kejelekan.
- Memperoleh limpahan rahmat dan kebajikan dari Allah SWT.
- Memperoleh kebajikan, mengangkat derajat, menghapus kejahatan, kesalahan dan dosa.
- Memperoleh pengakuan kesempurnaan iman bila membacanya 100 kali.
- Menjauhkan kerugian, penyesalam dan digolongkan ke dalam golongan orang-orang shaleh.
- Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Memperoleh pahala seperti memerdekakan hamba sahaya.
- Memperoleh syafa'at dari Nabi Muhammad SAW.
- Memperoleh penyertaan dari malaikat rahmat.
- Memperoleh hubungan yang rapat dengan Nabi Muhammad SAW. Sebab jika seseprang bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, maka shalawat dan salamnya disampaikan kepada Beliau.
- Membuka kesempatan berkomunikasi dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga.
- Menghilangkan kesusahan, kegundaham dan melapangkan rezeki.
- Melapangkan dada dan hati yang sempit bila seseorang membacanya 100 kali.
- Menghapuskan dosa bila seseorang membacanya 3 kali setiap hari.
- Menggantikan sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu bersedekah.
- Melipatgandakan pahala yang diperoleh terutama bila seseorang banyak membaca shalawat di hari Jumat.
- Mendekatkan kedudukan kepada Rasulullah SAW di Hari Kiamat.
- Menjadikan sebab doa kita diterima dan dikabulkan Allah SWT.
- Melepaskan diri dari kebingungan di Hari Kiamat.
- Memenuhi stu hak Rasulullah SAW atau memenuhi suatu ibadah yang diwajibkan Nabi SAW kepada umatnya.
- Dipandang sebagai seseorang yang mencintai Rasulullah SAW.
- Dikabulkan segala hajat atau kebutuhannya.
- Membuat orang yang membacanya menjadi ingat atas segala hal yang dilupakannya.
- Menghilangkan perasaan pelit.
- Menyelamatkan pembacanya dari kejahatan orang yang mendoakan keburukan baginya.
- mengundang keberkahan.
HUWALLAHU A'LAM BIS SHOWAB
Selasa, 13 Maret 2012
sejarah simtudduror
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.
Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.
Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.
Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).
Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.
Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.
Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).
Jumat, 09 Maret 2012
KEUTAMAAN SHOLAWAT NABI
Perintah Allah dengan FirmanNya
: Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat pada Nabi. Wahai
orang-orang yang beriman bacalah shalawat dan salam pada nabi dengan
sesungguhnya.
Hadits nabi :
Rosulullah bersabda : Barang siapa membaca shalawat untukku satu kali,
maka Allah akan bershalawat ( memberikan rahmat ) untuknya 10 kali.
Siapa yang membaca shalawat untukku 10 kali maka Allah bershalawat (
memberikan rahmat ) 100 kali. Siapa yang membaca shalawat untukku 100
kali maka Allah akan menulis di antara kedua matanya kebebasan dari
Munafik ( orang kafir berpura-pura Islam padahal hatinya tidak ), akan
dibebaskan dari api neraka, dan ditempatkan nanti di hari kiamat dengan
kelompok orang yang mati syahid.
Nabi bersabda : bacalah
shalawat untuk karena bacaan shalawatmu akan menjadi penebus
dosa-dosamu dan akan menjadi kesucian untukmu. Siapa yang membaca
shalawat untukku satu kali maka Allah akan memberikan rahmat dan kasih
sayangNya 10 kali lipat.
Masih banyak hadits-hadits yang
menyebutkan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Marilah
kita bershalawat untuk Nabi. Semoga kita akan mendapatkan
syafaat-syafaatnya baik di dunia dan akherat.
Selasa, 06 Maret 2012
KEUTAMAAN MENCARI ILMU
Sesungguhnya keutamaan menuntut ilmu sangat banyak, di sini cukuplah kami sebutkan beberapa faedah dari hadits di atas yang telah kami sampaikan:
- Allah memudahkan jalan ke sorga bagi orang yang menuntut ilmu.
- Malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi.
- Seorang ‘alim dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air.
- Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang.
- Para ulama itu pewaris para Nabi.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا
دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
artinya:
Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]
SEJARAH MAJLIS MAULID WATTA'LIM RIYADLUL JANNAH
Awal mulanya, untuk memperoleh 40 lokasi sebagai tempat kegiatan safari 40 malam tersebut, ia menyarankan gagasan dakwahnya itu kepada para pengurus masjid.
Sekitar dua tahun sebelum wafat, Kiai Ahmad Syadzili (Kisah Ulama alKisah 07/2009), Pendem, Batu, Malang, memanggil salah seorang putranya, Gus Rohim, untuk menemuinya di dalam kamar. Saat itu, di kediaman sang kiai sedang berlangsung persiapan pelaksanaan acara Maulid Nabi SAW yang akan dilangsungkan pada hari itu. Sesampainya ia di dalam kamar, ternyata Kiai Syadzili sedang menangis haru sedemikian hebat. Sementara itu, suasana kamar terasa sangat berbeda. Semerbak wewangian memenuhi seluruh isi ruangan.
Gus Rohim mendekati sang ayah. Dengan suara lirih, ayahnya mengatakan, “Rasulullah SAW baru saja datang ke sini.” Subhanallah.
Kecintaan Kiai Syadzili kepada Rasulullah SAW memang begitu mendalam. Bagi mereka yang meyakini bahwa Rasulullah SAW dapat saja menemui orang-orang tertentu secara yaqzhatan (dalam keadaan terjaga), apa yang dialami Kiai Syadzili adalah bukti bahwa Rasulullah SAW pun mencintainya.
Tahun 2000, Kiai Syadzili wafat. Gus Rohim, putranya, kini melanjutkan dakwah Kiai Syadzili. Meneruskan apa yang ditekankan dalam dakwah sang ayah, dakwah Gus Rohim saat ini memang banyak menekankan ihwal menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW di hati kaum muslimin. Memang benar kata sebuah pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Mimpi Ziarah ke Makam Nabi
Di kota Malang, atau tepatnya di seantero Malang Raya, yakni Kabupaten Malang dan Kota Madya Malang, nama Gus Rohim cukup dikenal sebagai tokoh ulama kharismatis dengan gebrakan dakwahnya Safari Maulid 40 Malam.
Acara tersebut diselenggarakan secara berkeliling selama 40 malam berturut-turut, dari kota ke kota, dari desa ke desa, dari masjid ke masjid, dan dari mushalla ke mushalla, ketika datangnya bulan Rabi’ul Awwal, atau bulan Maulid. Selain jama’ah setianya yang selalu mendampingi Gus Rohim di setiap tempat penyelenggaraan acara, jama’ah dari berbagai daerah tempat disinggahinya acara tersebut juga selalu menyambut dengan penuh antusias.
Sosok Gus Rohim dikenal hangat bila bertemu siapa pun. Tutur katanya tenang tapi penuh wibawa. Lewat pribadi yang terkesan low profile ini, ribuan jama’ah dengan setia mengikuti prosesi pembacaan Maulid Simthud Durar di setiap malam penyelenggaran acara safari Maulid tersebut. Malam-malam di kota Malang pun terasa dipenuhi rasa suka cita, menyambut momentum istimewa, yaitu memperihati hari kelahiran Rasulullah SAW.
Awalnya, ia mendapat isyarat lewat mimpi. Saat itu, ia sendiri sudah memiliki majelis Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang telah berjalan kurang lebih selama satu tahun.
Gus Rohim bermimpi pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW bersama para jama'ahnya. Dalam mimpinya, ia memerintahkan para jama’ah untuk mendahuluinya masuk ke ruang makam Rasulullah SAW. Setelah seluruh jama’ah sudah masuk dan telah keluar kembali dari ruang makam Rasulullah SAW, barulah ia sendirian masuk ke makam mulia tersebut.
Dalam mimpinya itu, di hadapan makam Rasulullah SAW, Gus Rohim bermunajat hingga meneteskan air mata. Saat itu, terutama ia memohon agar mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW.
Tiba-tiba dari dalam makam Rasulullah SAW, Rasulullah SAW mengulurkan tangan beliau yang mulia kepada Gus Rohim. Segera saja Gus Rohim mencium tangan mulia Rasulullah SAW tersebut dan terus dipegangnya erat-erat hingga ia terjaga dari tidurnya. Setelah terjaga, wangi harum tangan mulia Rasulullah SAW masih melekat di tangan Gus Rohim.
Ijazah Habib Anis
Selang beberapa bulan setelah mendapat isyarat mimpi tersebut, ia mengunjungi Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi di kota Solo. Habib Anis adalah cucu Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun kitab Maulid Simthud Durar atau terkadang disebut Maulid Al-Habsyi. Dalam kesempatan itu, Habib Anis mengijazahkan pembacaan kitab Maulid tersebut kepada Gus Rohim, sekaligus memintanya agar menyebarluaskannya di wilayah sekitar tempat tinggalnya di Malang.
Mendapatkan amanah muliau tersebut, Gus Rohim mulai membuka majelis Maulid secara istiqamah sebagai jalan dakwah bagi dirinya di tengah-tengah umat. Dalam perjalanan dakwah safari Maulid yang ia adakan, ia pada awalnya mensyiarkan Maulid Simthud Durar lewat lembaga pendidikan yang ia pimpin, yaitu Pondok Pesantren Riyadhul Jannah. Di pesantren asuhannya itu, ia menggelar majelis Maulid dengan para santri setiap malam menjelang datangnya waktu subuh.
Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai membuka majelis Maulid untuk umum sebulan sekali, yaitu setiap Jum’at Legi malam Sabtu Pahing.
Pada awal dibukanya majelis bulanan itu, majelis tersebut hanya dihadiri beberapa orang. Namun majelis itu mendapat dukungan banyak pihak, terutama dari kalangan habaib, seperti Habib Muhammad Bin Agil dan Ustadz Anis Bin Shahab. Setelah beberapa tahun berjalan, para jama’ah yang mengikuti majelis tersebut pun berkeinginan untuk mengadakan majelis pembacaan Maulid di tempat mereka masing-masing.
Maka kemudian di sejumlah tempat mulailah dibuka majelis Maulid yang ia bina sebagai pengembangan dari majelis Maulid di kediamannya, seperti pada beberapa mushalla kecil di daerah Purwodadi, Lawang, dan Singosari. Saat itu, hari pelaksanaannya pun masih belum teratur.
Setelah berjalan beberapa bulan, permintaan pembacaan Maulid di tempat-tempat lainnya semakin meningkat. Akhirnya Gus Rohim berinisiatif untuk menyeragamkan hari pelaksanaannya, yaitu hari Sabtu malam Ahad. Bersama Habib Agil bin Ali Bin Agil dan Habib Anis Bin Shahab, ia mulai mengadakan safari Maulid berkeliling majelis dan daerah, hingga sampai saat ini.
Terbesar di Malang
Bulan Rabi’ul Awwal 1430 H/2009 M, Gus Rohim menggagas pelaksanaan acara Maulid secara berkeliling. Maka ditetapkanlah acara safari Maulid tersebut diadakan selama 40 malam berturut-turut. Sebenarnya, kebiasaan ini sudah berlangsung lama sebagai kebiasaannya sendiri. Setiap masuk bulan Rabi’ul Awwal, ia menggelar pembacaan maulid Simthud Durar selama 40 malam berturut-turut bersama para santrinya. Kebiasaan itulah yang kemudian ia ingin tularkan kepada kaum muslimin pecinta Rasulullah SAW di kota Malang secara umum.
Pada awalnya, untuk mendapat 40 tempat sebagai lokasi acara safari 40 malam tersebut, ia menawarkan gagasan dakwahnya itu kepada para pengurus masjid di sekitar kawasan Malang Raya. Tidak semuanya dapat berjalan mulus dan mudah. Karena masih banyak orang yang belum mengenal Maulid Simthud Durar.
Setelah safari Maulid 40 malam yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1430 H/2009 M tersebut berjalan sukses, jama’ah setianya semakin bertambah banyak, hingga mencapai ribuan. Itu mengakibatkan, tidak seperti saat hendak mengadakan Safari Maulid 40 Malam yang pertama, untuk Safari Maulid yang kedua, yaitu pada tahun ini, beberapa bulan sebelum dimulainya pun, jadwal 40 malam telah terisi penuh. Banyak tempat yang menyodorkan diri untuk kegiatan baik tersebut. Sampai-sampai banyak tempat yang tidak mendapatkan bagian untuk disinggahi acara itu.
Setiap malam pelaksanaan acara Safari Maulid tersebut, selain membaca Maulid Simthud Durar, jama’ah juga mendengarkan taushiyah dari para ulama yang berbeda-beda di setiap malamnya. Ribuan jama’ah pun mendapat siraman ruhani yang amat bermanfaat.
Semangat para jama’ah begitu kentara. Meski diguyur hujan dan menahan dinginnya angin malam, mereka, yang rata-rata menggunakan kendaraan sepeda motor, baik sendiri maupun dengan keluarga, dengan setia menghampiri setiap tempat yang kedapatan disinggahi acara Safari Maulid. Lokasi acaranya sendiri kini telah meluas setidaknya sampai kota Pasuruan.
Sekitar dua tahun sebelum wafat, Kiai Ahmad Syadzili (Kisah Ulama alKisah 07/2009), Pendem, Batu, Malang, memanggil salah seorang putranya, Gus Rohim, untuk menemuinya di dalam kamar. Saat itu, di kediaman sang kiai sedang berlangsung persiapan pelaksanaan acara Maulid Nabi SAW yang akan dilangsungkan pada hari itu. Sesampainya ia di dalam kamar, ternyata Kiai Syadzili sedang menangis haru sedemikian hebat. Sementara itu, suasana kamar terasa sangat berbeda. Semerbak wewangian memenuhi seluruh isi ruangan.
Gus Rohim mendekati sang ayah. Dengan suara lirih, ayahnya mengatakan, “Rasulullah SAW baru saja datang ke sini.” Subhanallah.
Kecintaan Kiai Syadzili kepada Rasulullah SAW memang begitu mendalam. Bagi mereka yang meyakini bahwa Rasulullah SAW dapat saja menemui orang-orang tertentu secara yaqzhatan (dalam keadaan terjaga), apa yang dialami Kiai Syadzili adalah bukti bahwa Rasulullah SAW pun mencintainya.
Tahun 2000, Kiai Syadzili wafat. Gus Rohim, putranya, kini melanjutkan dakwah Kiai Syadzili. Meneruskan apa yang ditekankan dalam dakwah sang ayah, dakwah Gus Rohim saat ini memang banyak menekankan ihwal menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW di hati kaum muslimin. Memang benar kata sebuah pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Mimpi Ziarah ke Makam Nabi
Di kota Malang, atau tepatnya di seantero Malang Raya, yakni Kabupaten Malang dan Kota Madya Malang, nama Gus Rohim cukup dikenal sebagai tokoh ulama kharismatis dengan gebrakan dakwahnya Safari Maulid 40 Malam.
Acara tersebut diselenggarakan secara berkeliling selama 40 malam berturut-turut, dari kota ke kota, dari desa ke desa, dari masjid ke masjid, dan dari mushalla ke mushalla, ketika datangnya bulan Rabi’ul Awwal, atau bulan Maulid. Selain jama’ah setianya yang selalu mendampingi Gus Rohim di setiap tempat penyelenggaraan acara, jama’ah dari berbagai daerah tempat disinggahinya acara tersebut juga selalu menyambut dengan penuh antusias.
Sosok Gus Rohim dikenal hangat bila bertemu siapa pun. Tutur katanya tenang tapi penuh wibawa. Lewat pribadi yang terkesan low profile ini, ribuan jama’ah dengan setia mengikuti prosesi pembacaan Maulid Simthud Durar di setiap malam penyelenggaran acara safari Maulid tersebut. Malam-malam di kota Malang pun terasa dipenuhi rasa suka cita, menyambut momentum istimewa, yaitu memperihati hari kelahiran Rasulullah SAW.
Awalnya, ia mendapat isyarat lewat mimpi. Saat itu, ia sendiri sudah memiliki majelis Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang telah berjalan kurang lebih selama satu tahun.
Gus Rohim bermimpi pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW bersama para jama'ahnya. Dalam mimpinya, ia memerintahkan para jama’ah untuk mendahuluinya masuk ke ruang makam Rasulullah SAW. Setelah seluruh jama’ah sudah masuk dan telah keluar kembali dari ruang makam Rasulullah SAW, barulah ia sendirian masuk ke makam mulia tersebut.
Dalam mimpinya itu, di hadapan makam Rasulullah SAW, Gus Rohim bermunajat hingga meneteskan air mata. Saat itu, terutama ia memohon agar mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW.
Tiba-tiba dari dalam makam Rasulullah SAW, Rasulullah SAW mengulurkan tangan beliau yang mulia kepada Gus Rohim. Segera saja Gus Rohim mencium tangan mulia Rasulullah SAW tersebut dan terus dipegangnya erat-erat hingga ia terjaga dari tidurnya. Setelah terjaga, wangi harum tangan mulia Rasulullah SAW masih melekat di tangan Gus Rohim.
Ijazah Habib Anis
Selang beberapa bulan setelah mendapat isyarat mimpi tersebut, ia mengunjungi Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi di kota Solo. Habib Anis adalah cucu Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun kitab Maulid Simthud Durar atau terkadang disebut Maulid Al-Habsyi. Dalam kesempatan itu, Habib Anis mengijazahkan pembacaan kitab Maulid tersebut kepada Gus Rohim, sekaligus memintanya agar menyebarluaskannya di wilayah sekitar tempat tinggalnya di Malang.
Mendapatkan amanah muliau tersebut, Gus Rohim mulai membuka majelis Maulid secara istiqamah sebagai jalan dakwah bagi dirinya di tengah-tengah umat. Dalam perjalanan dakwah safari Maulid yang ia adakan, ia pada awalnya mensyiarkan Maulid Simthud Durar lewat lembaga pendidikan yang ia pimpin, yaitu Pondok Pesantren Riyadhul Jannah. Di pesantren asuhannya itu, ia menggelar majelis Maulid dengan para santri setiap malam menjelang datangnya waktu subuh.
Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai membuka majelis Maulid untuk umum sebulan sekali, yaitu setiap Jum’at Legi malam Sabtu Pahing.
Pada awal dibukanya majelis bulanan itu, majelis tersebut hanya dihadiri beberapa orang. Namun majelis itu mendapat dukungan banyak pihak, terutama dari kalangan habaib, seperti Habib Muhammad Bin Agil dan Ustadz Anis Bin Shahab. Setelah beberapa tahun berjalan, para jama’ah yang mengikuti majelis tersebut pun berkeinginan untuk mengadakan majelis pembacaan Maulid di tempat mereka masing-masing.
Maka kemudian di sejumlah tempat mulailah dibuka majelis Maulid yang ia bina sebagai pengembangan dari majelis Maulid di kediamannya, seperti pada beberapa mushalla kecil di daerah Purwodadi, Lawang, dan Singosari. Saat itu, hari pelaksanaannya pun masih belum teratur.
Setelah berjalan beberapa bulan, permintaan pembacaan Maulid di tempat-tempat lainnya semakin meningkat. Akhirnya Gus Rohim berinisiatif untuk menyeragamkan hari pelaksanaannya, yaitu hari Sabtu malam Ahad. Bersama Habib Agil bin Ali Bin Agil dan Habib Anis Bin Shahab, ia mulai mengadakan safari Maulid berkeliling majelis dan daerah, hingga sampai saat ini.
Terbesar di Malang
Bulan Rabi’ul Awwal 1430 H/2009 M, Gus Rohim menggagas pelaksanaan acara Maulid secara berkeliling. Maka ditetapkanlah acara safari Maulid tersebut diadakan selama 40 malam berturut-turut. Sebenarnya, kebiasaan ini sudah berlangsung lama sebagai kebiasaannya sendiri. Setiap masuk bulan Rabi’ul Awwal, ia menggelar pembacaan maulid Simthud Durar selama 40 malam berturut-turut bersama para santrinya. Kebiasaan itulah yang kemudian ia ingin tularkan kepada kaum muslimin pecinta Rasulullah SAW di kota Malang secara umum.
Pada awalnya, untuk mendapat 40 tempat sebagai lokasi acara safari 40 malam tersebut, ia menawarkan gagasan dakwahnya itu kepada para pengurus masjid di sekitar kawasan Malang Raya. Tidak semuanya dapat berjalan mulus dan mudah. Karena masih banyak orang yang belum mengenal Maulid Simthud Durar.
Setelah safari Maulid 40 malam yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1430 H/2009 M tersebut berjalan sukses, jama’ah setianya semakin bertambah banyak, hingga mencapai ribuan. Itu mengakibatkan, tidak seperti saat hendak mengadakan Safari Maulid 40 Malam yang pertama, untuk Safari Maulid yang kedua, yaitu pada tahun ini, beberapa bulan sebelum dimulainya pun, jadwal 40 malam telah terisi penuh. Banyak tempat yang menyodorkan diri untuk kegiatan baik tersebut. Sampai-sampai banyak tempat yang tidak mendapatkan bagian untuk disinggahi acara itu.
Setiap malam pelaksanaan acara Safari Maulid tersebut, selain membaca Maulid Simthud Durar, jama’ah juga mendengarkan taushiyah dari para ulama yang berbeda-beda di setiap malamnya. Ribuan jama’ah pun mendapat siraman ruhani yang amat bermanfaat.
Semangat para jama’ah begitu kentara. Meski diguyur hujan dan menahan dinginnya angin malam, mereka, yang rata-rata menggunakan kendaraan sepeda motor, baik sendiri maupun dengan keluarga, dengan setia menghampiri setiap tempat yang kedapatan disinggahi acara Safari Maulid. Lokasi acaranya sendiri kini telah meluas setidaknya sampai kota Pasuruan.
Rabu, 29 Februari 2012
PENGERTIAN ISLAM
Arti yang sebenarnya dari Islam adalah penerimaan dari suatu
pandangan atau suatu keadaan yang mula-mula ditolak atau
tidak diterima.
Di dalam Al-Qur’an, Islam, seringkali diartikan kerelaan
dari seseorang untuk menjalankan perintah Tuhan dan
mengikutinya.
“Moslem” adalah kata keadaan daripada Islam. Ini berkenaan
dengan orang yang bersedia (rela) menjalankan perintah Tuhan
dan mengikutinya.
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani
akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan
diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari
golongan orang-orang musyrik.” 3:67.
Dua kata-kata itu, memperoleh arti yang khusus setelah
mengenal pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad.
Pesan yang disampaikan pada Muhammad dinamakan Islam, dan
mengaku percaya pada pesan-pesannya adalah juga Islam.
Moslem, berarti seorang yang mengikuti pesan Muhammad dan
percaya akan kebenarannya.
Langganan:
Postingan (Atom)